Kita sudah mendayung seharianNamun lautan yang memisahkan kita begitu luas
Lantas bila sang surya terbenam ke peraduannya
Apakah kita dapat melihat walau saling berpapasan?
Gelombang tinggi menerjang ganas
Badai beliung melintang pukang berserabutan
Sadarkah kau itu membuat kita semakin menjauh
Bahkan dapat benamkan kita kedasar laut nestapa?
Ayu ning Ayu di manapun kau berada
Apakah tidak lebih baik di sisa hari-hari ini
Kita menengguk kendi-kendi yang berserakan
Kendi-Kendi yang berisikan kemesraan kita selama ini
Kendi-Kendi yang mengendapkan impian-impian kita selama ini
Kendi-Kendi yang yang menampung keringat kita yang bercucuran
Karena panasnya dekapan dan hangatnya desah nafasmu
Sebab bilamana saatnya tiba
Dikala mata kan tertutup selamanya
Diiringi tertimbunnya jasad kaku oleh tanah merah
Setidaknya diantara kita yang tertinggal
Masihlah dapat merasakan denyutnya kehidupan didalam tubuh
Denyut Kasih sayang yang kita hirup dari kendi-kendi berserakan tadi
Maharkesri . . . . . . Prameswari-ku
Akupun tak mau lagi tahu
Apakah ini Kepasrahan
Atau pertanda Ke-putus-asa-an . . . . . . . . . . . .

(Rully Hasibuan – Penghujung Dec, 1980)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar